PENAJAM,Setara News – Aktivitas galian pasir di kawasan pesisir Pantai Tanjung Jumlai yang sempat dikaitkan dengan proyek pengerjaan jalan di wilayah Saloloang mendapat bantahan tegas dari warga setempat.
Mereka menyebut pemberitaan sebelumnya tidak sesuai dengan kondisi di lapangan dan diterbitkan tanpa melalui proses konfirmasi yang menyeluruh.
Hasan, warga Saloloang, menegaskan bahwa penggalian pasir yang dilakukan di kawasan pantai tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan proyek semenisasi jalan.
Ia menjelaskan, pasir diambil semata-mata untuk memenuhi kebutuhan warga, khususnya untuk menimbun akses masuk rumah pasca peninggian badan jalan.
“Setelah jalan selesai dikerjakan, posisi badan jalan menjadi lebih tinggi dari jalan masuk ke rumah warga. Akibatnya kendaraan sulit keluar masuk. Pasir itu digunakan untuk menimbun agar akses warga kembali normal,” ujar Hasan, Senin (15/12/2025).
Ia membenarkan adanya aktivitas penggalian pasir di lokasi tersebut, namun menegaskan bahwa seluruh pasir yang diambil tidak digunakan untuk kepentingan proyek dan tidak diperjualbelikan.
Menurutnya, pemanfaatan pasir pantai untuk kebutuhan penimbunan telah menjadi kebiasaan warga sejak lama.
“Pasir itu tidak dijual. Dari zaman nenek moyang kami, kalau menimbun jalan yang bolong atau halaman rumah, ya menggunakan pasir pantai,” tegasnya.
Terkait penggunaan alat berat berupa ekskavator yang memunculkan dugaan keterlibatan proyek, Hasan menjelaskan bahwa warga awalnya melakukan penggalian secara manual.
Namun karena keterbatasan tenaga dan kemampuan, warga kemudian meminta bantuan alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum (PU) yang kebetulan berada di sekitar lokasi untuk mengerjakan proyek lain.
“Alat berat itu hanya membantu warga karena sedang berada di lokasi. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan proyek jalan di Saloloang,” jelasnya.
Hasan juga menyayangkan adanya pemberitaan yang dinilai melebih-lebihkan persoalan hingga memunculkan persepsi keliru di tengah masyarakat, terutama terkait dugaan kerusakan lingkungan dan ancaman abrasi pantai.
“Kami merasa dirugikan karena tidak ada konfirmasi terlebih dahulu. Ke depan, saya berharap penyebaran informasi lebih jeli, mengedepankan klarifikasi, dan tidak asal menerbitkan berita,” pungkasnya.
Melalui klarifikasi ini, warga Saloloang berharap polemik yang berkembang dapat diluruskan serta tidak lagi menimbulkan kesalahpahaman publik terhadap aktivitas masyarakat yang dilakukan semata-mata untuk kebutuhan mendesak dan kepentingan warga, bukan untuk proyek maupun tujuan komersial.(red)*












