Pura-Pura Merdeka dalam Negeri yang Masih Luka

  • Bagikan
Foto: Ilustrasi

Oleh : Rahmat Amran/Jurnalis

OPINI – Delapan puluh tahun,bukan waktu yang sebentar.Bukan pula waktu yang seharusnya dilalui dengan sekadar menepuk dada dan menggantungkan bendera di halaman rumah.Tapi lihatlah hari ini bangsa ini masih sibuk menghitung usia kemerdekaan, namun gagal memahami luka yang terus menganga di balik kata merdeka itu sendiri.

Sebagai anak bangsa yang lahir jauh dari deru senapan dan jeritan kolonialisme, aku menyaksikan bentuk baru dari penjajahan. Ia tak lagi memakai seragam militer, tak membawa senjata. Tapi ia menjelma dalam sistem, dalam kesenjangan, dalam pengkhianatan terhadap cita-cita luhur para pendiri negeri.

Dan di tengah riuh parade, karnaval, dan panggung-panggung megah bertabur cahaya itu aku bertanya lirih,apakah ini yang dulu diperjuangkan oleh mereka yang rela mati tanpa nama?

Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini bukanlah hadiah. Ia bukan kado yang turun dari langit, bukan pula buah manis dari perundingan meja bundar. Ia lahir dari kelaparan, dari keputusasaan yang ditolak, dari tubuh-tubuh renta yang memikul senjata rakitan dengan semangat yang tak pernah padam.Kemerdekaan adalah darah.

Ia adalah keringat di kening para ibu yang menyelundupkan logistik ke hutan. Ia adalah tangis anak-anak yang kehilangan ayah tanpa nisan. Ia adalah doa-doa yang menggema di langit malam, ketika satu-satunya yang bisa mereka andalkan hanyalah keyakinan bahwa tanah ini kelak akan bebas untuk semua.

Namun kini, kemerdekaan itu seolah hanya hidup di antara lomba panjat pinang, barisan upacara, dan panggung-panggung meriah yang menutupi realitas getir. Setelah tanggal 17 lewat, bendera dilipat, semangat kembali lesu, dan yang tertinggal hanyalah rakyat kecil yang masih berjuang, tapi bukan melawan penjajah, melainkan melawan bangsanya sendiri.

Aku teringat satu adegan dalam film Naga Bonar Jadi 2.

Deddy Mizwar berdiri di hadapan patung Jenderal Sudirman, dan dengan getir ia berkata:

“Jenderal… Turunkan tanganmu. Apa yang kau hormati siang dan malam itu? Apakah karena mereka yang di hadapanmu itu memakai roda empat? Tidak semua dari mereka pantas kau beri hormat. Turunkan tanganmu, Jenderal.”

Betapa menyayat. Sebuah sindiran yang lebih tajam dari peluru. Karena dalam kenyataannya, tak semua pemimpin layak dihormati. Tak semua pejabat mengemban amanah dengan kesatria. Di hadapan patung yang tak pernah lelah memberi hormat, mereka berdiri dengan dada tegap dan janji-janji manis. Namun di belakang rakyat, mereka mencuri, memanipulasi, dan mengorbankan masa depan negeri ini demi kursi, demi gengsi.

Lalu bagaimana dengan rakyat?

Mereka masih menggigil di ujung negeri yang tak pernah disapa. Anak-anak di Papua masih berjalan kaki belasan kilometer menembus hutan demi menuntut ilmu, sementara pendidikan diglorifikasi dalam poster-poster kementerian. Di pelosok Kalimantan, rumah sakit hanya menjadi cerita, bukan kenyataan. Di pesisir-pesisir NTT, nelayan menatap laut tanpa harapan, tercekik harga BBM dan alat tangkap yang tak pernah disubsidi.

Di balik janji-janji besar tentang Indonesia Maju, suara-suara kecil ini tenggelam.

Mereka terpinggirkan, dilupakan, dikorbankan dalam narasi pembangunan yang hanya dinikmati oleh mereka yang hidup di lingkaran kekuasaan.

Padahal, Bung Karno pernah berkata,

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.”

Tapi bagaimana bisa kita menghormati jasa para pahlawan, jika kita membiarkan rakyatnya hidup dalam derita yang sama seperti zaman penjajahan hanya saja kini lebih tersamar dan dibungkus dengan baliho-baliho wajah senyum politisi?

Hatta juga telah mengingatkan,

“Kemerdekaan hanyalah jembatan emas. Di seberang jembatan itu, kita akan membangun masyarakat yang adil dan makmur.”

Tapi keadilan itu kini seperti fatamorgana selalu terlihat di kejauhan, namun tak pernah benar-benar kita rasakan.

Bangsa ini terlalu sibuk dengan euforia, lupa bahwa luka di tubuh rakyatnya belum dijahit.

Kita terlalu terpukau dengan gegap gempita parade persatuan, sementara di dalam lorong-lorong sempit kota, dan di ladang-ladang gersang pedalaman, rakyat masih bertanya, di mana negara?

Kita lebih sering merayakan kemerdekaan daripada mengusahakannya. Kita bangga menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan suara lantang, tapi tak punya keberanian untuk memperjuangkan makna dari liriknya: “Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku, semuanya.”

Dan hari ini, 80 tahun setelah Proklamasi itu dibacakan, aku hanya bisa menggenggam tanya.

Kapan merah putih tak lagi menangis?

Kapan kita benar-benar merdeka?

Karena selama masih ada rakyat yang tak bisa makan, yang tak bisa sekolah, yang suaranya tak didengar maka kemerdekaan itu belum selesai.

Mungkin, sudah waktunya kita berhenti sekadar menghafal Sejarah,karena bangsa ini tidak butuh lebih banyak seremoni.yang kita butuhkan adalah keberanian untuk jujur,untuk adil,untuk berpihak pada mereka yang terpinggirkan.Agar kelak, ketika merah putih kembali berkibar, ia tak hanya berdiri karena tiang baja tetapi karena rakyatnya berdiri tegak bersama.

Kalau tidak, seratus tahun pun berlalu, dan kita tetap berdiri di tempat yang sama,berpura-pura merdeka, dalam negeri yang masih berdarah. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *