Bukan Sekadar Nilai, Tapi Jiwa yang Kuat, HS Farah Gaungkan Pendidikan Berbasis Kesehatan Mental

  • Bagikan

PENAJAM, Setara News – Di era yang bergerak semakin cepat dan penuh tekanan, tantangan terbesar dalam mendidik anak tak lagi hanya soal memastikan mereka unggul secara akademik.

Lebih dari itu, anak-anak masa kini menghadapi tuntutan untuk memiliki ketahanan mental, kestabilan emosi, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan yang tak pernah berhenti.

Di tengah realitas tersebut, satu hal kembali ditegaskan fondasi terkuat pendidikan sejatinya bermula dari rumah.

Kesadaran inilah yang melandasi kolaborasi PKBM Homeschooling Farah (HS Farah) bersama Psikologi Naradhipta dalam seminar edukatif bertajuk “Rumah Bahagia, Jiwa Tangguh: Mengoptimalkan Fase Tumbuh Kembang Anak Bersama PKBM dan Psikologi”, Sabtu (27/6/2026).

Seminar yang berlangsung di ruang pertemuan PKBM HS Farah itu dihadiri puluhan orang tua peserta didik dari Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser. Suasana kegiatan berlangsung hangat namun sarat makna. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang hidup, mencerminkan besarnya kepedulian para orang tua terhadap masa depan buah hati mereka.

Tema Rumah Bahagia, Jiwa Tangguh bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Tema ini membawa pesan mendalam bahwa rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orang tua adalah pendidik utama yang membentuk karakter, rasa aman, kepercayaan diri, hingga ketahanan mental mereka.

Kepala PKBM HS Farah, Musfira, S.H., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan yang berhasil tidak mungkin berdiri hanya di atas peran lembaga pendidikan semata. Menurutnya, keterlibatan keluarga merupakan elemen yang tak tergantikan.

“Memilih homeschooling adalah keputusan besar. Ini bukan pilihan karena terpaksa atau karena gagal di sistem formal, tetapi bentuk kesadaran orang tua untuk menghadirkan metode pendidikan yang paling sesuai dengan kebutuhan anak,” ujarnya.

Musfira menekankan bahwa setiap anak hadir dengan karakter, potensi, dan ritme perkembangan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pendidikan yang seragam sering kali tidak mampu menjawab seluruh kebutuhan anak, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian lebih secara emosional dan psikologis.

Menurutnya, homeschooling hadir bukan sekadar sebagai alternatif, tetapi sebagai pendekatan pendidikan yang lebih personal, adaptif, dan manusiawi.

Untuk memperkuat pendekatan tersebut, HS Farah menggandeng Psikologi Naradhipta sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata dalam menghadirkan sistem pendidikan yang holistik tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan keseimbangan emosional anak.

Psikolog dari Psikologi Naradhipta, Dian Wijayanti, M.Psi., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa banyak persoalan perilaku anak yang sering disalahpahami oleh orang dewasa.

Anak yang terlihat sulit fokus, mudah marah, menolak belajar, atau cenderung menarik diri, kata Dian, belum tentu mengalami masalah akademik.

“Bisa jadi mereka sedang berjuang secara emosional. Ada kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi, tetapi tidak terlihat di permukaan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah yang hangat, aman, dan penuh dukungan cenderung memiliki daya juang yang lebih kuat dalam menghadapi tekanan kehidupan.

“Kesehatan mental anak dibangun dari relasi yang sehat di rumah. Ketika anak merasa diterima dan didengar, mereka akan tumbuh lebih kuat,” tambahnya.

Bagi banyak keluarga, kehadiran PKBM HS Farah menjadi jawaban atas kebutuhan pendidikan yang lebih inklusif. Terutama bagi anak-anak yang mengalami hambatan adaptasi di sekolah formal, homeschooling menawarkan ruang belajar yang lebih nyaman, fleksibel, dan sesuai kebutuhan personal.

Salah seorang orang tua peserta didik mengaku merasakan perubahan besar pada anaknya setelah bergabung dengan HS Farah.

“Dulu anak kami sulit beradaptasi dan sering merasa tertekan. Setelah belajar di Homeschooling Farah, perlahan ia mulai nyaman, lebih terbuka, dan kepercayaan dirinya tumbuh,” tuturnya.

Seminar ini menjadi penegasan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata diukur dari angka dalam rapor, peringkat kelas, atau prestasi akademik semata.

Pendidikan sejati adalah ketika anak tumbuh menjadi manusia yang utuh memiliki pikiran yang berkembang, hati yang sehat, serta mental yang kokoh untuk menghadapi kehidupan.

Sebab pada akhirnya, anak-anak hebat tidak hanya lahir dari sekolah yang baik, tetapi dari rumah yang dipenuhi cinta, pengertian, dan kebahagiaan.(red)

Penulis: Rahmat

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *