Setara News – Seorang mantan tentara Sudan Selatan mendadak menjadi miliarder dan sontak menarik perhatian publik. Bukan karena prestasi atau kisah perjuangannya, melainkan karena aparat berwenang langsung mengendus sumber kekayaannya.
Alih-alih bekerja sama, ia memilih kabur dari negaranya, meninggalkan satu kalimat yang menggelegar, “Kenapa kalian tidak menyelidiki saat aku miskin?”
Pertanyaan sederhana itu menampar keras wajah sistem. Ia menggugat kecenderungan negara dan masyarakat yang baru hadir ketika seseorang sudah mencapai puncak, tetapi abai ketika rakyatnya terpuruk di dasar.
Pernyataan itu menyentuh hati banyak orang, sebab mencerminkan realitas di banyak negara dengan pengawasan lemah dan korupsi yang mengakar.
Kita tentu bisa membalik pertanyaan itu di mana negara ketika rakyat berjuang mati-matian untuk keluar dari jerat kemiskinan? Kenapa pengawasan hanya muncul saat ada kekayaan yang mencolok, sementara saat rakyat menderita, negara justru berpaling?
Fenomena ini bukan hanya milik Sudan Selatan. Indonesia pun berkaca dalam cermin yang sama. Tak jarang, rakyat kecil baru disorot ketika berhasil menapaki kesuksesan. Saat seseorang tiba-tiba kaya, negara mendadak hadir mengejar pajak.
Namun, ketika ia miskin, negara seakan tutup mata. Ironisnya, sistem justru kerap membuat yang miskin semakin terjepit dari beban administrasi, kebijakan, hingga harga kebutuhan yang terus melambung.
Lebih parah lagi, negara kerap tampil bak pahlawan di tengah kekurangan rakyatnya melalui bansos, program karitatif, atau sekadar pencitraan.
Padahal, kehadiran semacam itu bukanlah solusi permanen, melainkan justru bagian dari sistem yang memastikan rakyat tetap bergantung, agar negara selalu punya alasan untuk tampil sebagai penyelamat.
Pertanyaan mantan tentara itu sebenarnya adalah jeritan universal,mengapa kemiskinan dianggap wajar, tetapi kekayaan harus dicurigai? Mengapa negara absen ketika rakyat berjuang, tetapi tiba-tiba hadir saat ada potensi untuk diperas atau dimanfaatkan?
Opini ini tidak hendak membela apakah kekayaan si mantan tentara itu halal atau haram. Namun, kalimatnya mengingatkan kita pada satu kebenaran pahit. Rakyat miskin seringkali tak terlihat, sampai mereka cukup sukses untuk dipertanyakan.(*)
Penulis: RMA












