PENAJAM PASER UTARA, Setara News – Tidak semua perjalanan menuju bangku pendidikan berjalan mulus. Ada yang harus berhenti karena keadaan ekonomi, ada yang kehilangan kesempatan akibat berbagai keterbatasan, dan ada pula yang setiap hari harus berjuang melawan stigma hanya karena terlahir sebagai penyandang disabilitas.
Namun di Penajam Paser Utara, kisah itu perlahan berubah. Harapan yang sempat redup kini kembali menyala melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Homeschooling (HS) FARAH, lembaga pendidikan nonformal yang terus membuka ruang belajar tanpa memandang usia, latar belakang, maupun kondisi fisik.
Tahun ini, PKBM HS FARAH kembali menorehkan cerita yang sarat makna. Sejumlah warga belajar penyandang disabilitas berhasil menyelesaikan pendidikan kesetaraan dan dinyatakan lulus. Sebuah pencapaian yang bukan hanya membanggakan keluarga mereka, tetapi juga menjadi bukti bahwa pendidikan sejatinya adalah hak setiap manusia.
Kelulusan itu mungkin hanya berlangsung dalam satu hari. Namun di balik selembar ijazah yang diterima, tersimpan perjuangan panjang yang tidak terlihat oleh banyak orang. Ada rasa minder yang harus dilawan, keterbatasan akses yang harus dihadapi, hingga perjuangan membangun kembali keyakinan bahwa mereka juga mampu berdiri sejajar dengan siapa pun.
Sebagai lembaga yang menyelenggarakan Program Kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, PKBM HS FARAH selama ini menjadi rumah kedua bagi masyarakat yang ingin kembali melanjutkan pendidikan setelah sempat terputus dari jalur sekolah formal.
Tidak sedikit peserta didik yang datang membawa keraguan. Namun mereka pulang dengan harapan baru.
Kepala PKBM HS FARAH, Musfira, mengatakan setiap kelulusan memiliki cerita yang berbeda. Terlebih bagi warga belajar penyandang disabilitas, keberhasilan tersebut menjadi simbol kemenangan atas berbagai tantangan yang selama ini membatasi langkah mereka.
“Kelulusan ini bukan garis akhir. Justru ini adalah langkah pertama menuju kehidupan yang lebih baik. Saya berharap teman-teman disabilitas tetap memiliki tujuan hidup, berani bermimpi, menetapkan target, dan tidak pernah menyerah pada keadaan. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk sukses,” ujarnya, Selasa (30/06/2026).
Menurut Musfira, pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk tampil di tengah masyarakat. Rasa percaya diri yang mulai tumbuh menjadi bekal penting agar para lulusan mampu melanjutkan pendidikan, bekerja, maupun berkarya sesuai kemampuan yang dimiliki.
Ia menegaskan, PKBM HS FARAH akan terus menjadi ruang belajar yang terbuka bagi siapa saja yang ingin memperoleh kesempatan kedua melalui pendidikan.
Hal senada disampaikan Ketua Disabilitas Penajam Paser Utara (PPU), Yuliarti. Menurutnya, persoalan terbesar yang selama ini dihadapi penyandang disabilitas bukan semata-mata soal keterbatasan fisik, melainkan masih kuatnya rasa kurang percaya diri yang muncul akibat stigma sosial.
Di sisi lain, masih banyak keluarga yang belum mengetahui adanya layanan pendidikan kesetaraan yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas.
“Jumlah penyandang disabilitas di Penajam Paser Utara cukup banyak. Karena itu mereka membutuhkan perhatian bersama. Kendala terbesar justru rasa minder. Padahal mereka memiliki kemampuan untuk berkembang jika diberi kesempatan. Kehadiran PKBM HS FARAH sangat membantu mereka untuk kembali percaya diri, melanjutkan pendidikan, dan mengejar cita-cita,” jelasnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang ikut menyebarkan informasi mengenai pendidikan kesetaraan sehingga tidak ada lagi penyandang disabilitas yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena kurangnya akses informasi.
Bagi Yuliarti, pendidikan bukan sekadar proses memperoleh ijazah, melainkan jalan untuk membangun kemandirian, meningkatkan kualitas hidup, sekaligus membuka peluang agar penyandang disabilitas dapat berkontribusi lebih luas di tengah masyarakat.
Keberhasilan para lulusan PKBM HS FARAH menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan semata. Keluarga, lingkungan, komunitas, hingga masyarakat memiliki peran besar dalam memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal hanya karena memiliki keterbatasan.
PKBM HS FARAH pun mengajak masyarakat Penajam Paser Utara yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas atau warga yang belum menyelesaikan pendidikan untuk tidak ragu mencari informasi mengenai Program Kesetaraan Paket A, Paket B, maupun Paket C.
Sebab setiap informasi yang dibagikan bisa menjadi awal perubahan hidup seseorang.
Di balik setiap keterbatasan, selalu ada potensi yang menunggu untuk ditemukan. Di balik setiap perjuangan, selalu ada harapan yang layak diperjuangkan.
Dan dari ruang-ruang belajar sederhana di PKBM HS FARAH, harapan itu terus tumbuh membuktikan bahwa mimpi tidak pernah memilih kepada siapa ia pantas diberikan. Pendidikanlah yang membuka jalan, sementara keberanianlah yang mengantarkan setiap langkah menuju masa depan yang lebih bermartabat.(red/ar*).
Penulis: Rahmat Amran
Editor: RMA












